Sekolah anak sekarang minta setiap siswa punya QR pribadi yang discan tiap pagi buat presensi, dan orang tua bisa bayar SPP lewat QRIS yang ditautkan ke akun sekolah. Buat sebagian orang tua yang sibuk kerja, ini kabar baik karena gak perlu lagi bolak-balik ke sekolah cuma buat bayar SPP tunai. Tapi buat orang tua lain, ini jadi awal dari kekhawatiran baru soal seberapa dini anak mereka harus terbiasa dengan teknologi digital.

Sisi kepraktisan yang diakui banyak pihak

Presensi berbasis QR memudahkan sekolah memantau kehadiran secara real-time, orang tua bisa langsung dapat notifikasi kalau anaknya belum tercatat hadir jam tertentu. Pembayaran SPP lewat QRIS juga mengurangi risiko uang tunai hilang atau lupa dibawa anak ke sekolah.

Kekhawatiran yang juga valid

Di sisi lain, sistem ini biasanya berarti anak, terutama yang masih SD, harus dibekali kartu atau bahkan HP buat keperluan presensi. Ini yang bikin sebagian orang tua khawatir, karena secara gak langsung mendorong anak lebih cepat "membutuhkan" gadget dibanding kalau sistemnya masih manual.

Bagaimana sekolah biasanya menjembatani kedua kepentingan ini

Banyak sekolah yang menerapkan sistem ini akhirnya gak mewajibkan anak membawa HP pribadi, melainkan menyediakan kartu fisik berisi kode QR unik yang cukup ditempelkan atau discan di alat pembaca yang disediakan sekolah. Pendekatan ini dianggap jalan tengah yang cukup masuk akal, karena anak tetap merasakan manfaat presensi digital tanpa harus benar-benar memegang gadget pribadi setiap hari.

Beberapa sekolah lain menggunakan pendekatan berbeda, misalnya cukup memindai wajah atau sidik jari anak lewat alat khusus yang dioperasikan petugas sekolah, sehingga anak sama sekali gak perlu berinteraksi langsung dengan perangkat digital apa pun. Pendekatan semacam ini lebih mahal diimplementasikan, tapi dianggap lebih ideal buat sekolah yang benar-benar ingin menjaga anak jauh dari gadget selama berada di lingkungan sekolah.

Perspektif dari sisi psikologi perkembangan anak

Sejumlah psikolog anak yang dimintai pendapat soal tren ini umumnya sepakat bahwa masalahnya bukan terletak pada teknologi QR itu sendiri, melainkan pada bagaimana teknologi itu diperkenalkan dan diawasi penggunaannya. Anak yang cuma berinteraksi dengan kartu QR sekali sehari buat presensi, jauh berbeda risikonya dibanding anak yang dibekali HP pribadi penuh dengan akses internet dan media sosial tanpa pengawasan.

Yang lebih jadi perhatian para psikolog justru bukan soal presensi QR, tapi soal bagaimana orang tua dan sekolah mengelola waktu screen time anak secara keseluruhan di luar konteks presensi ini. Kekhawatiran soal QR presensi kadang jadi semacam pengalih perhatian dari isu yang sebenarnya lebih besar, yaitu konsumsi gadget anak secara umum di rumah yang seringkali jauh lebih gak terkontrol dibanding sistem presensi sekolah yang justru dirancang dan diawasi dengan tujuan jelas.

Pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan orang tua ke sekolah

Buat orang tua yang masih ragu dengan sistem semacam ini, ada beberapa pertanyaan konkret yang bisa diajukan langsung ke pihak sekolah sebelum memutuskan keberatan atau menerima sistem tersebut begitu saja.

Coba Sendiri, Gratis

Daripada pakai QR generator abal-abal yang gak jelas siapa pemiliknya, mending bikin QR sendiri lewat tools yang transparan soal cara kerjanya.

Pakai QR Generator DebugGo

Perdebatan yang belum akan selesai dalam waktu dekat

Digitalisasi di lingkungan sekolah kemungkinan bakal terus berkembang, dan perdebatan soal batas usia yang tepat buat mulai mengenalkan teknologi ini juga bakal terus berlanjut. Yang jelas, sekolah yang menerapkan sistem ini sebaiknya tetap sedia opsi manual buat siswa atau orang tua yang belum siap sepenuhnya beralih.