Istilah "entry level" seharusnya merujuk pada posisi yang cocok buat kandidat baru memulai karier, tapi makin sering ditemukan lowongan berlabel demikian yang justru mensyaratkan pengalaman kerja minimal dua sampai tiga tahun di bidang yang sama, sebuah kontradiksi yang bikin frustrasi banyak fresh graduate.

Kenapa perusahaan menetapkan standar ini

Dari sisi perusahaan, alasan yang sering dikemukakan adalah kebutuhan mendapatkan kandidat yang bisa langsung produktif tanpa perlu masa pelatihan panjang, mengingat biaya dan waktu onboarding karyawan baru yang cukup besar, terutama di perusahaan dengan tim HR dan pelatihan yang terbatas.

Kenapa ini dianggap merugikan pencari kerja

Standar semacam ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus, fresh graduate butuh pengalaman buat diterima kerja, tapi mereka gak bisa mendapat pengalaman kalau gak ada yang mau menerima mereka bekerja tanpa pengalaman terlebih dahulu. Ini jadi salah satu penyebab utama frustrasi yang dirasakan lulusan baru dalam mencari pekerjaan pertama mereka.

Strategi yang bisa dicoba. Pengalaman magang, proyek kuliah, organisasi kampus, atau freelance, meski gak berstatus kerja formal penuh waktu, tetap bisa dihitung dan ditonjolkan sebagai pengalaman relevan di CV, asal disusun dengan cara yang menunjukkan kontribusi dan hasil konkret, bukan sekadar daftar kegiatan.

Kenapa istilah "entry level" jadi kehilangan maknanya

Fenomena ini sebenarnya cerminan dari perubahan makna istilah "entry level" itu sendiri, yang perlahan bergeser dari makna aslinya. Sebagian perusahaan mulai menggunakan istilah ini semata-mata buat menunjukkan level gaji yang ditawarkan, bukan level pengalaman yang dibutuhkan. Sebuah posisi bisa dilabeli "entry level" karena gajinya memang di kisaran gaji pemula, meski persyaratan pengalamannya tetap tinggi, sebuah praktik yang jelas membingungkan dan merugikan pencari kerja yang benar-benar baru memulai karier.

Kebingungan ini diperparah dengan algoritma pencarian lowongan di berbagai platform, yang sering mengelompokkan lowongan berdasarkan label yang dicantumkan perusahaan, bukan berdasarkan analisis mendalam terhadap persyaratan sebenarnya yang tercantum di deskripsi pekerjaan. Akibatnya, fresh graduate yang memfilter pencarian khusus posisi entry level, tetap kebanjiran hasil pencarian yang sebenarnya gak cocok buat mereka.

Bagaimana beberapa perusahaan mulai mengoreksi praktik ini

Beberapa perusahaan yang lebih sadar akan masalah ini mulai menerapkan sistem klasifikasi posisi yang lebih jujur, dengan istilah yang lebih spesifik seperti "junior dengan pengalaman minimal" dibanding sekadar "entry level" yang ambigu. Beberapa platform pencarian kerja juga mulai menambahkan filter yang lebih detail, memisahkan lowongan berdasarkan rentang tahun pengalaman yang dibutuhkan secara eksplisit, bukan cuma label kategori yang sering menyesatkan.

Perubahan semacam ini masih berjalan pelan dan belum merata di seluruh industri, tapi setidaknya menunjukkan adanya kesadaran yang tumbuh soal betapa membingungkannya standar penamaan posisi kerja saat ini bagi pencari kerja, khususnya mereka yang baru memulai perjalanan karier profesional mereka.

Perspektif dari sisi ekonomi tenaga kerja secara lebih luas

Sejumlah ekonom ketenagakerjaan berpendapat fenomena ini sebagian mencerminkan pergeseran risiko dari perusahaan ke pekerja. Dulu, perusahaan lebih banyak berinvestasi dalam pelatihan karyawan baru sebagai bagian dari strategi pengembangan jangka panjang. Sekarang, dengan tekanan efisiensi biaya yang makin tinggi, banyak perusahaan lebih memilih merekrut kandidat yang udah "siap pakai", memindahkan beban pelatihan dan pengembangan skill ke pundak individu pencari kerja sendiri, entah lewat kursus mandiri, sertifikasi, atau pengalaman magang yang gak dibayar.

Coba Sendiri, Gratis

Mau tahu kenapa lamaranmu sering gak dibalas? Bisa jadi bukan soal pengalamanmu, tapi soal format yang bikin sistem gak bisa baca CV-mu dengan benar.

Cek CV ATS Checker Sekarang

Perdebatan yang belum menemukan solusi jelas

Kritik terhadap fenomena ini terus disuarakan komunitas pencari kerja, tapi belum ada perubahan signifikan dari sisi perusahaan secara luas. Sampai ada perubahan kebijakan yang lebih menyeluruh, fresh graduate perlu lebih kreatif menunjukkan pengalaman relevan mereka lewat jalur di luar pekerjaan formal penuh waktu.