Setiap bulan, ribuan fresh graduate IT masuk ke pasar kerja. Tapi hanya sebagian kecil yang berhasil dapat pekerjaan dalam 3 bulan pertama. Sisanya? Terjebak dalam spiral lamaran tanpa balasan yang melelahkan mental.

Setelah mengamati ratusan kasus, pola kesalahannya hampir selalu sama. Berikut 7 kesalahan paling umum — dan cara memperbaikinya.

1. CV yang Tidak Bercerita

CV fresh graduate rata-rata isinya: nama, alamat, IPK, daftar mata kuliah, dan "bisa Microsoft Office". HRD membaca puluhan CV seperti itu setiap hari. Tidak ada yang mencolok, tidak ada yang diingat.

Yang seharusnya ada di CV kamu: proyek nyata. Bukan proyek akademik biasa, tapi sesuatu yang menunjukkan kamu bisa menyelesaikan masalah. "Membuat aplikasi manajemen inventori untuk UKM lokal dengan Laravel dan MySQL" jauh lebih kuat dari "Pernah belajar Laravel di kampus".

2. Apply ke Semua Posisi Tanpa Seleksi

Banyak fresh graduate apply ke 50 perusahaan sekaligus dengan CV dan cover letter yang sama persis. Hasilnya: semua terasa generic, tidak ada yang terasa personal.

Lebih baik apply ke 10 perusahaan dengan riset mendalam: pelajari produk mereka, sebutkan spesifik dalam cover letter, dan tunjukkan kamu memang ingin bergabung di sini — bukan di mana saja.

3. Portfolio Tidak Ada atau Tidak Bisa Diakses

Mencantumkan "punya portfolio di GitHub" tapi link-nya private, atau repository kosong semua, sama saja tidak punya portfolio. Bahkan lebih buruk — menunjukkan kamu tidak teliti.

Minimal yang harus ada: 2–3 proyek yang di-deploy dan bisa langsung dicoba online, README yang jelas, dan kode yang rapi (minimal diberi komentar).

4. Tidak Bisa Menjelaskan Kode Sendiri

Ini sering terjadi pada yang belajar dari tutorial YouTube atau copy-paste dari StackOverflow. Ketika technical interview, ditanya "jelaskan bagaimana kamu handle authentication di proyek ini" — tidak bisa jawab.

Pastikan setiap baris kode yang kamu tulis di portfolio, kamu benar-benar paham kenapa begitu. Kalau tidak paham, jangan cantumkan.

5. Mengabaikan Soft Skills

Perusahaan tidak hanya mencari orang yang bisa coding. Mereka mencari orang yang bisa bekerja dalam tim, komunikasi jelas, dan mau belajar. Dalam interview, cara kamu menjelaskan masalah dan solusi sama pentingnya dengan jawaban teknisnya.

6. Ekspektasi Gaji Tidak Realistis

Di kondisi pasar 2025–2026, fresh graduate yang meminta 10–12 juta tanpa pengalaman kerja profesional akan langsung dilewati. Pahami rentang pasar, mulai dengan angka yang masuk akal, dan fokus pada pertumbuhan jangka panjang.

7. Berhenti Belajar Setelah Lulus

Teknologi bergerak cepat. Fresh graduate yang masih menggunakan stack yang dipelajari 2 tahun lalu di kampus, tanpa update apapun, terasa "basi" di mata pewawancara. Tunjukkan bahwa kamu terus belajar: ikuti kursus, kontribusi ke open source, atau tulis artikel teknis.

Pasar kerja IT memang semakin kompetitif. Tapi kandidat yang menghindari 7 kesalahan di atas tetap punya peluang besar — karena pesaingnya masih banyak yang melakukan semua kesalahan itu.