Banyak mahasiswa mengeluh harus "mengisi" bagian tertentu skripsi mereka dengan kalimat yang sebenarnya gak terlalu perlu, cuma demi memenuhi syarat jumlah kata minimum yang ditetapkan kampus, meski argumen inti mereka sebenarnya udah cukup tersampaikan dengan lebih ringkas.
Argumen di balik aturan jumlah kata minimum
Dari sisi akademik, aturan ini dimaksudkan untuk memastikan mahasiswa benar-benar melakukan analisis mendalam, bukan cuma menulis kesimpulan singkat tanpa pembahasan yang memadai. Panjang tulisan dianggap sebagai proxy sederhana untuk mengukur seberapa jauh mahasiswa menggali topik yang mereka bahas.
Kritik terhadap pendekatan ini
Kritikus berargumen bahwa kualitas argumen dan kejelasan penyampaian jauh lebih penting dibanding sekadar jumlah kata. Tulisan yang padat dan jelas dalam beberapa ribu kata bisa jauh lebih berkualitas dibanding tulisan yang bertele-tele demi mencapai target jumlah kata, tapi justru kehilangan fokus dan kejelasan argumennya.
Dari hitung karakter buat caption sampai cek keyword density buat artikel SEO, semuanya ada di kumpulan tools Word & SEO DebugGo, gratis tanpa batas pemakaian.
Cek Tools Word & SEO GratisBagaimana mahasiswa menyiasati aturan ini
Sebagian mahasiswa akhirnya belajar menyeimbangkan antara memenuhi syarat administratif jumlah kata dengan tetap menjaga kualitas argumen, misalnya dengan memperluas tinjauan pustaka atau pembahasan implikasi penelitian secara lebih menyeluruh, bukan sekadar mengulang-ulang kalimat yang sama dengan susunan berbeda cuma demi menambah hitungan kata.
Komentar 0