Setiap tahun, jumlah fresh graduate yang masuk ke pasar kerja terus bertambah, sementara lowongan yang tersedia gak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama, menciptakan persaingan yang jauh lebih ketat dibanding beberapa tahun lalu.

Kenapa persaingan makin ketat dari sisi teknis rekrutmen

Selain faktor ekonomi makro yang mempengaruhi jumlah lowongan yang tersedia, cara perusahaan menyaring kandidat juga berubah. Makin banyak perusahaan, bahkan skala menengah, yang mengadopsi ATS buat menyaring ribuan lamaran secara otomatis, yang berarti fresh graduate gak cuma bersaing soal kualifikasi, tapi juga soal seberapa baik CV mereka "berbicara" dengan sistem yang menyaringnya.

Kesenjangan literasi digital antar kampus

Kesenjangan ini juga terlihat cukup jelas antar kampus. Mahasiswa dari kampus yang punya program pengembangan karier aktif, dengan sesi khusus soal cara menulis CV yang ramah ATS, biasanya lebih siap menghadapi tantangan ini dibanding mahasiswa dari kampus yang gak punya program serupa. Kesenjangan semacam ini menambah lapisan ketidakadilan baru dalam persaingan mencari kerja, terlepas dari kualitas akademik yang sebenarnya dimiliki masing-masing kandidat.

Beberapa kampus mulai menyadari pentingnya isu ini dan memasukkan materi soal literasi ATS ke dalam program bimbingan karier mereka, tapi penerapannya masih jauh dari merata di seluruh Indonesia, terutama di kampus-kampus yang sumber dayanya lebih terbatas.

Coba Sendiri, Gratis

Prosesnya jalan langsung di browser kamu, jadi isi CV yang berisi data pribadi gak pernah diupload atau disimpan di server mana pun.

Cek Skor CV Kamu Sekarang

Bukan cuma soal jumlah lowongan yang berkurang

Perdebatan soal naiknya angka pengangguran fresh graduate sering fokus ke isu ekonomi makro, tapi aspek teknis kayak literasi soal ATS ini juga layak dapat perhatian lebih. Fresh graduate yang memahami cara kerja sistem ini punya keunggulan tambahan dibanding yang gak, terlepas dari kondisi pasar kerja secara umum.